Awalnya menyenangkan. Negara baru, suasana baru, makanan baru, dan pengalaman yang selama ini hanya dilihat dari internet akhirnya bisa dirasakan sendiri. Tapi setelah beberapa minggu… Kok mulai terasa berbeda? Cara orang berbicara terasa asing. Kebiasaan di tempat kerja tidak seperti yang biasa dilakukan di Indonesia. Mau bertanya takut salah. Mau bercanda takut tidak nyambung. Bahkan, hal sederhana seperti cara tersenyum, menatap lawan bicara, menyela pembicaraan, atau menerima perintah ternyata tidak selalu sama. Kalau kamu pernah merasakan ini, tenang. Kamu tidak aneh. Bisa jadi kamu sedang mengalami culture shock atau gegar budaya.
Apa sebenarnya culture shock? Menurut Kalervo Oberg, culture shock adalah reaksi emosional, psikologis, dan fisik yang muncul ketika seseorang kehilangan tanda-tanda pergaulan sosial yang selama ini familiar setelah berpindah ke budaya baru. Sejak kecil, kita sebenarnya sudah belajar ribuan “isyarat sosial” dari lingkungan. Di Indonesia, kita bisa tahu kapan harus tersenyum, bagaimana berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana menerima teguran, atau kapan waktu yang tepat untuk bercanda—sering kali tanpa perlu memikirkannya. Kita melakukannya secara otomatis. Namun ketika pindah ke negara lain, “kompas sosial” itu seperti hilang. Kita harus memikirkan kembali banyak hal yang sebelumnya berjalan secara otomatis.
Kenapa rasanya melelahkan?
Karena otak sedang bekerja lebih keras. Setiap hari kita harus memproses berbagai informasi dan aturan baru. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan kognitif, yang kemudian memicu emosi negatif, rasa rindu rumah, dan frustrasi di tempat kerja. Hal ini juga menjelaskan mengapa bulan pertama di negara baru belum tentu menjadi masa yang paling sulit. Awalnya mungkin semuanya terasa menyenangkan makanan baru, tempat baru, dan pengalaman baru. Namun setelah mulai bekerja, mengikuti SOP, bersekolah, dan berhadapan dengan sistem kehidupan sehari-hari, barulah perbedaan budaya terasa lebih nyata.
Jadi, bagaimana menghadapinya?
Jangan sok tahu, tapi jangan takut bertanya, ketika tidak memahami sesuatu, jangan langsung membuat kesimpulan. Cobalah mencari informasi dan bertukar cerita. Dalam dokumen, strategi ini disebut uncertainty reduction atau pengurangan ketidakpastian—mengurangi rasa tidak nyaman karena tidak tahu dengan cara mencari informasi. Daripada terus menebak-nebak “Kenapa dia begitu?” Lebih baik bertanya “Memangnya di sini biasanya seperti apa?”.
Jangan lupa “pulang” secara mental, Jauh dari Indonesia bukan berarti harus memutus semua hal yang membuat kita merasa nyaman. Ngobrol dengan teman sesama Indonesia, makan masakan Indonesia, menonton film Indonesia, atau bergabung dengan komunitas dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi rasa terisolasi. Dokumen juga menekankan pentingnya komunitas sebagai “jaring pengaman” selama proses adaptasi.
Ingat, stres bukan berarti kamu gagal, Menurut konsep Stress-Adaptation-Growth, stres dapat menjadi bagian dari proses seseorang untuk beradaptasi dan berkembang. Tahapannya meliputi stress, adaptation, dan growth. Jadi, jangan langsung berpikir “Aku tidak cocok tinggal di sini.” Bisa jadi kamu sedang berada dalam proses belajar. Pelan-pelan, hal yang dulu terasa asing akan mulai terasa biasa. Karena pada akhirnya, tinggal dan bekerja di negeri orang bukan hanya tentang bertahan. Kamu juga sedang belajar menjadi pribadi yang lebih fleksibel dan lebih kuat.
Leave a Reply