Pernah mengirim chat biasa, tetapi dibalas singkat? atau mungkin pesanmu tidak dibalas sama sekali? Padahal menurutmu, kamu tidak bermaksud kasar. Nah, inilah salah satu tantangan komunikasi digital.
Saat berbicara langsung, kita bisa menggunakan intonasi, ekspresi wajah, atau gestur untuk membantu orang lain memahami maksud kita. Namun, semua itu hilang ketika komunikasi dilakukan lewat pesan tertulis. Akibatnya, kata-kata yang sebenarnya biasa saja bisa terdengar terlalu keras atau bahkan dianggap tidak sopan.
Bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), hal ini penting diperhatikan. Chat bisa menjadi sarana komunikasi dengan atasan, rekan kerja, atau pihak lain di negara tempat bekerja. “Kirim file sekarang” vs “Mohon bantu kirim file” Coba bandingkan dua pesan “Kirimkan file-nya sekarang.” dengan “Mohon bantu kirim file-nya hari ini jika memungkinkan.” Maksudnya sebenarnya sama yaitu meminta file namun, kesan yang muncul berbeda. Kalimat kedua terasa lebih halus karena memberikan ruang kepada lawan bicara dan menggunakan ungkapan yang lebih sopan. Materi etika komunikasi digital memberikan contoh perbedaan seperti ini untuk menunjukkan bagaimana pilihan kata dapat memengaruhi hubungan dalam komunikasi.
Coba gunakan kata-kata “pelembut”
Dalam komunikasi, kita bisa menggunakan hedging, yaitu ungkapan yang membantu melembutkan pendapat atau permintaan.
Misalnya:
- “Mungkin…”
- “Sepertinya…”
- “Menurut saya…”
- “Kalau tidak salah…”
- “Jika berkenan…”
Daripada menulis “Laporan itu salah.” Cobalah “Mungkin ada bagian laporan yang perlu ditinjau kembali.” Pesannya tetap tersampaikan, tetapi terdengar lebih santun.
Jangan chat saat sedang emosi
Kesal dengan rekan kerja? Marah karena pekerjaan? Jangan langsung mengetik lalu tekan send. Prinsip dasar komunikasi digital yang sopan, termasuk memilih kata yang menghargai lawan bicara, menghindari menulis ketika sedang emosi, menyampaikan maksud dengan jelas, menyesuaikan gaya bahasa dengan situasi, dan memikirkan dampak pesan sebelum dikirim karena sekali pesan terkirim, kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain membacanya.
Emoji boleh, tapi jangan berlebihan
Emoji juga bisa membantu menunjukkan “ekspresi” yang tidak terlihat dalam chat. Misalnya “Terima kasih.” terasa sedikit berbeda dengan “Terima kasih 😊” Emoji dapat membuat pesan terasa lebih hangat dan personal. Namun, penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan situasi dan tidak berlebihan, terutama dalam komunikasi formal.
Sebelum kirim, baca sekali lagi
Coba biasakan berhenti beberapa detik sebelum menekan tombol kirim. Tanyakan pada diri sendiri
Apakah pesanku sudah jelas?
Apakah kata-katanya sopan?
Apakah konteksnya sesuai?
Apakah orang lain bisa salah memahami maksudku?
Karena pesan yang baik bukan hanya pesan yang mudah dipahami. Pesan yang baik juga membuat orang lain merasa dihargai.
Leave a Reply