Dosen D4 Desain Media Digital (Bidang Fotografi/Komunikasi Visual)
UNS x PERMA UTLLN JEPANG
Optimalisasi Well-being dan Kompetensi Global Pekerja Migran Indonesia di Jepang melalui Penguatan Literasi K3, Komunikasi Lintas Budaya, dan Digital Branding
Website pendamping resmi program pengabdian UNS dan Perma UTLLN Jepang untuk mendukung peningkatan kesejahteraan, kompetensi global, literasi K3, komunikasi lintas budaya, dan digital branding bagi pekerja migran Indonesia di Jepang.
TENTANG PROGRAM
Tentang Program
Program ini hadir untuk membekali dengan kemampuan bahasa pemasaran dan literasi digital berbasis NotebookLM, agar mereka siap berwirausaha mandiri – baik selama di Jepang maupun setelah kembali ke Indonesia.
Breaking The Barrier: Professional Communication For Indonesian Migrant Workers
Safety First, Study Fast: Implementasi Budaya Kesehatan Keselamatan Kerja, Ergonomi Belajar & Digital Safety
Seni Mengenal Diri Lebih Dalam Dengan Neuro Linguistic Programming dan MBTI
Tim Dosen & Pemateri
Para pengajar dan narasumber yang terlibat dalam program pelatihan & pendampingan ini.
-

Dedy Eka Timbul Prayoga, S.Sn., M.Cs.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
-

Dimas Adika, S.Pd., M.Hum.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D4 Teknologi Rekayasa Manufaktur (Bidang Ilmu Linguistik Terapan)
-

Juairiah Nastiti Sandyaningrum, S.Pd., M.TCSOL.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D4 Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional
-

Kennia Wikanditha, S.S., M.Li.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D3 Agribisnis (Bidang Ilmu Linguistik/Bahasa)
-

Dr. Marimin, M.Si.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D3 Usaha Perjalanan Wisata
-

Husna Nur Amalina, M.A.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D3 Komunikasi Terapan
-

Dr. Desi Setyaningrum, M.P
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D3 Agribisnis
-

Nanang Maulana Yoeseph, S.Si., M.Cs
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D4 Teknologi Informasi
-

Hengky Ditya Eko Nugroho, S.ST., M.Si.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja
-

Eki Rovianto, S.T., M.T.
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D4 Teknologi Rekayasa Manufaktur
-

Rizka Adela Fitsena, S.ST., M.Keb
Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (SV UNS)
Dosen D3 Kebidanan
Artikel & Berita Terbaru
Informasi, panduan, dan dokumentasi terkini seputar kegiatan pengabdian.
-
Membangun Jejak Profesional: Pentingnya Deskripsi Diri Digital di LinkedIn bagi Pekerja Migran Indonesia di Jepang
Bagi seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sedang berjuang di Jepang, rutinitas harian seringkali dihabiskan di lantai pabrik, sektor pertanian, perhotelan, atau kaigo. Namun, perjuangan di perantauan tidak hanya tentang menyelesaikan target pekerjaan fisik atau menuntaskan modul kuliah di Universitas…
-
FAQ dari webinar seri pertama ” Breaking the Barriers: Professional Communication for Indonesian Migrant Workers”
Pertanyaan 1: Adaptasi terhadap culture shock berkaitan dengan kondisi mental setiap individu yang berbeda. Jika seseorang tidak mampu beradaptasi ketika menghadapi culture shock dan akhirnya mengalami kondisi down, apakah sebaiknya keluar/menghindar dari lingkungan tersebut, atau tetap memaksakan diri bertahan? Jawaban: …
-
Jauh dari Rumah, Banyak Pikiran? Ini Cara PMI Menjaga Kuatnya Mental Saat Bekerja di Jepang
Bekerja di luar negeri mungkin menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan membantu keluarga di tanah air. Namun, menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga bukan perkara mudah. Bayangkan harus beradaptasi dengan bahasa baru, budaya yang berbeda, gaya hidup yang tidak biasa, dan…
-
Kerja Makin Ribet? Coba Minta Bantuan AI, Bukan Cuma Buat Cari Jawaban
Pekerjaan sedang menumpuk. Email belum dibalas, laporan belum selesai, data masih harus dirapikan, dan besok ada presentasi yang harus disiapkan. Rasanya ingin punya asisten pribadi yang bisa membantu kapan saja. Kabar baiknya, sekarang teknologi seperti itu sudah ada. Artificial Intelligence…
-
Cuma Chat, Kok Bisa Bikin Salah Paham? Ini Cara Biar Pesanmu Tetap Sopan
Pernah mengirim chat biasa, tetapi dibalas singkat? atau mungkin pesanmu tidak dibalas sama sekali? Padahal menurutmu, kamu tidak bermaksud kasar. Nah, inilah salah satu tantangan komunikasi digital. Saat berbicara langsung, kita bisa menggunakan intonasi, ekspresi wajah, atau gestur untuk membantu…
-
Beda Cara Bicara, Beda Cara Kerja: Rahasia Membangun Hubungan Baik di Negeri Orang
Pernahkah Anda merasa sudah berbicara dengan sopan, tetapi lawan bicara justru terlihat kurang nyaman? atau pernah mendapat instruksi dari atasan yang terasa membingungkan karena cara penyampaiannya berbeda dengan kebiasaan di Indonesia? Hal seperti ini cukup mungkin terjadi ketika bekerja di…
FAQ & PANDUAN WEBINAR
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Rangkuman FAQ dan diskusi penting dari seluruh seri webinar pelatihan pengabdian UNS x Perma UTLLN Jepang.
[Q1] Adaptasi terhadap culture shock berkaitan dengan kondisi mental setiap individu yang berbeda. Jika seseorang tidak mampu beradaptasi ketika menghadapi culture shock dan akhirnya mengalami kondisi down, apakah sebaiknya keluar/menghindar dari lingkungan tersebut, atau tetap memaksakan diri bertahan?
Hal terpenting adalah memvalidasi emosi/stres yang dirasakan. Jika stres tidak tervalidasi, masalah cenderung akan berlanjut. Caranya adalah dengan mencari dukungan sosial, misalnya curhat/sharing dengan teman senasib (baik laki-laki maupun perempuan) untuk memastikan bahwa perasaan tersebut normal dan tidak dialami sendirian. Dengan validasi dan dukungan sosial ini, seseorang akan lebih mudah menemukan solusi dibandingkan menghadapinya sendirian.
[Q2] Manusia cenderung menilai bahasa tubuh orang lain menggunakan standar budayanya sendiri (etnosentrisme), yang dapat memicu kesalahpahaman antarbudaya. Bagaimana cara mengatasi hal ini?
Etnosentrisme adalah kecenderungan memandang budaya sendiri lebih tinggi dibanding budaya orang lain. Cara mengatasinya adalah dengan memahami stereotipe dan karakteristik budaya masing-masing daerah/negara (contoh: makna gerakan mengangguk atau menggeleng berbeda-beda di tiap budaya; postur duduk santai bisa dianggap sopan di satu budaya tapi tidak sopan di budaya lain). Intinya, sebelum berinteraksi di suatu negara atau komunitas, kita wajib mempelajari kearifan lokal (local wisdom) dan budaya setempat agar tidak melanggar norma yang berlaku di sana.
[Q3] Bagaimana cara mempertahankan budaya Indonesia (kehangatan, kolektivitas) ketika suatu daerah/kawasan semakin maju dan modern (misalnya di kawasan elit yang cenderung individualis)? Bagaimana caranya tetap bisa sejahtera namun tidak kehilangan nilai kehangatan budaya?
Perubahan budaya akibat modernisasi (reduksi/degradasi budaya) memang tidak bisa dihindari sepenuhnya karena adanya interaksi lokal-nasional-global. Solusinya adalah dengan tetap melakukan enkulturasi, yaitu menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya, misalnya lewat kebijakan pengembang perumahan yang mendukung interaksi sosial (tidak membangun pagar terlalu tinggi), serta menerapkan sistem gotong royong dengan skema subsidi silang (contoh: iuran sesuai kemampuan ekonomi masing-masing warga) agar kebersamaan tetap terjaga meski status sosial berbeda.
[Q4] Bagaimana cara mendisiplinkan dan membangun etos kerja/loyalitas karyawan Indonesia, terutama pada perusahaan yang baru berkembang, di mana karyawan sering menuntut banyak (gaji, dll) namun belum memberikan loyalitas kerja yang sepadan?
Berdasarkan Hofstede's Cultural Dimensions Theory, kuncinya adalah memperkecil power distance (jarak kekuasaan) antara pemimpin dan karyawan melalui interaksi sosial yang lebih dekat dan melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan (bukan sekadar hierarki atasan-bawahan). Sebagai contoh konkret, model manajemen warung Padang bisa diadaptasi — di mana karyawan diperlakukan seperti pemilik bersama (sistem bagi hasil), sehingga karyawan merasa "diorangkan" dan dilibatkan, bukan sekadar pekerja. Pendekatan personal dan penyentuhan sisi emosional/hati karyawan lebih efektif dibanding pendekatan yang murni berbasis profit.
[Q1] Apa yang dilakukan ketika mendapati perusahaan kurang menerapkan safety (misalnya saat uji penetran), dan bagaimana jika perusahaan tersebut tidak mengindahkan peringatan yang diberikan?
Tidak bisa langsung dilaporkan/audit begitu saja karena dampaknya bisa langsung penutupan perusahaan. Langkah yang biasa dilakukan adalah memberikan rekomendasi perbaikan terlebih dahulu (misalnya menambah ventilasi ruangan atau memindahkan pekerjaan ke luar ruangan). Jika setelah beberapa kali rekomendasi tetap diabaikan, barulah bisa dilakukan pelaporan. Namun pada praktiknya di lapangan hal ini tidak semudah teorinya, terutama karena mayoritas masalah K3 di Indonesia terjadi pada perusahaan-perusahaan kecil yang belum memiliki sistem K3 sesuai standar pemerintah.
[Q2] Bagaimana cara menghadapi teman-teman WNI (pekerja migran) yang semakin lama merasa tidak nyaman dengan sesama rekan kerja, dengan keluhan yang beragam? Apa solusinya bagi pihak penyalur (TSK) dan peserta?
Perlu dibuat komitmen dan aturan bersama sejak awal (misalnya jadwal bersih-bersih atau sosialisasi rutin) agar tidak muncul prasangka akibat ekspektasi yang tidak sesuai. Pihak TSK sebaiknya berperan sebagai penengah netral, bukan memihak salah satu pihak, serta bisa memfasilitasi momen kebersamaan (seperti piknik bersama) untuk meningkatkan bonding. Komunikasi yang baik adalah kunci utama dalam mencegah dan menyelesaikan konflik antarteman.
[Q3] Mengapa budaya keselamatan kerja (K3) masih sering diabaikan oleh karyawan meskipun mereka sudah tahu risiko kecelakaan cukup tinggi? Dan menurut narasumber, mana yang lebih sulit dibangun antara budaya keselamatan kerja, kesehatan mental, atau kesadaran keamanan digital?
Pekerja sebenarnya tahu risiko kecelakaan kerja, namun sering diabaikan karena beberapa faktor: banyak perusahaan kecil/keluarga yang budaya kerjanya sudah lama terbentuk sehingga sulit diubah, kurangnya sosialisasi dan edukasi K3, serta minimnya sanksi tegas bagi pekerja yang tidak menerapkan K3 sehingga mereka merasa "aman-aman saja" walau tidak patuh.
[Q4] Berapa idealnya tinggi kursi dan meja dari lantai (untuk ergonomi belajar/kerja)?
Tidak ada angka baku tunggal, karena ukuran ideal dihitung menggunakan metode RULA (mengukur postur bagian atas tubuh terkait posisi meja) dan REBA (mengukur postur duduk bagian bawah), serta metode antropometri untuk menyesuaikan dengan tinggi badan, tinggi siku, dan tinggi lengan masing-masing individu. Ketiga metode ini dikombinasikan untuk menentukan standar ukuran meja dan kursi yang sesuai.
[Q5] Banyak perusahaan di Indonesia yang penerapan safety-nya kurang, bahkan petugas K3 (Safety Man) seringkali tidak memiliki pengalaman lapangan sesuai bidang pekerjaan (misalnya di bidang fitter/pengelasan kapal), sehingga APD yang diwajibkan justru menyulitkan dan membahayakan pekerja. Bagaimana cara mengatasi kondisi ini, dan bagaimana perbandingannya dengan Jepang?
Perbedaan utama Indonesia dan Jepang adalah di Jepang, safety sudah menjadi budaya (culture), bukan sekadar tanggung jawab petugas K3 khusus.
Di Indonesia, kualitas Safety Man sangat bergantung pada level perusahaan: perusahaan besar/bonafit (seperti Pertamina, Freeport, perusahaan asing) memiliki standar rekrutmen K3 yang ketat (sertifikasi, masa kerja, track record), sedangkan perusahaan kecil/rintisan sering asal merekrut petugas safety tanpa latar belakang kompeten, hanya bermodal pelatihan singkat dan sertifikat.
Solusinya adalah edukasi K3 yang lebih spesifik sesuai bidang kerja sejak bangku kuliah, serta penguatan pemahaman bahwa APD merupakan langkah terakhir dalam hierarki pengendalian risiko (setelah eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, dan kontrol administrasi), bukan solusi utama.
Anggaran K3 yang memadai (idealnya sekitar 40% dari total anggaran terkait) juga menjadi indikator kualitas penerapan K3 suatu perusahaan.

